SEJARAH KERETA API DI INDONESIA
Kereta Api…. Siapa yang tidak kenal salah satu moda transportasi di Negara kita tercinta ini. Apalagi bagi kita yang berdomisili di Pulau Jawa dan di Sumatra bagian selatan. Ya..inilah transportasi kebanggan masyarakat Jawa dan sebagian Sumatra. Asal anda tahu, ternyata kereta api di Indonesia sudah lebih dari 100 tahun popular di Indonesia. Tapi ya berawal dari masa-masa sulit kita dulu sewaktu dijajah oleh Kolonial Belanda. Tapi tak dipungkiri juga bahwa Kolonial Belanda mempunyai andil yang sangat besar bagi keberadaan kereta api di Indonesia. Nah loe…,ternyata gak Cuma nyiksa, tapi ada hikmah di balik siksaan.. J Okelah, tanpa basa-basi, yuk kita mulai pembahasan yang paling pertama dan dasar tentang histori ini.
· Periode Kolonial Belanda
Nah,,,masa-masa ini terjadi kira-kira di tahun 1878, pada masa itu pemerintah colonial Belanda mulai membangun sebuah jalur rel panjang yang menghubungkan 3 kota besar di pulau Jawa pada saat itu. 3 kota yang dianngap besar dan penting pada waktu tersebut adalah Solo, Semarang dan Jogjakarta. Mengapa colonial Belanda memilih hanya 3 kota tersebut dan memilih pulau Jawa sebagai basis pembangunan jalur kereta api? Saya pikir, karena di pulau jawa pada saat itu terkenal dengan hasil alam yang melimpah dan tanah-tanahnya yang subur karena terdapat banyak gunung api yang aktif. Dan juga menjadi tempat perdagangan yang strategis, serta di situlah terdapat kantor pusat colonial, yaitu di Jogjakarta. Nah, pembangunan itu dikerjakan oleh suatu perusahaan spesialis kereta api yang diberi mandate oleh gubernur jenderal Belanda saat itu, dan perusahaan itu biasa dikenal dengan NIS (Nedherlands-Easter Indishcee Spoorweeg Maascaphic) dan orang pribumi lebih mengenal dengan Maskapai Sepur Belanda. Kata “Spoor” sendiri lah yang sampai sekarang sangat popular untuk menyebut kata kereta api sampai sekarang, khususnya orang Jawa Timur dan Tengah. Dan saat itu pula hanya dibangun 10 stasiun perdana untuk penghentian kereta api, salah satu yang paling terkenal adalah Stasiun Solo Balapan. Saat itu, NIS mengoperasikan loko uap seri C500. Loko ini bertenaga 750 tenaga kuda yang mampu menarik 3 gerbong. Tetapi saat itu kereta api hanya diperuntukkan untuk mengangkut senjata dan amunisi militer pemerintah colonial dan belum dijadikan transportasi komersil. Sampai pada awal 1885, secara bertahap NIS dan beberapa partner usahanya atas ijin pemerintah colonial melakukan pembangunan rel untuk memperpanjang rute perjalanan kereta api, dibangunlah ke arah timur melewati madiun dan hanya sampai di kertosono. Karena dahulu Kertosono dijadikan stasiun akhir maka Stasiun Kertosono pun dibuat menjadi stasiun terbesar di Jatim saat itu. Dan lokomotif baru pun juga didatangkan dari German dan Perancis untuk mengisi kesibukan di jalur baru tersebut. Dan di jalur tersebut lah dibuka jalur komersil untuk mengangkut hasil bumi dan barang dagang lainnya secara umum. Karena beberapa tahun yang cukup pesat perkembangannya, pada awal 1890 NIS pun menggebrak lagi dengan menambah jalur Kertosono s/d Surabaya, Semarang s/d Bandung dan terakhir sampai di Batavia, dan akhirya pula seluruh pulau jawa dijamah dengan rute rel kereta api milik NIS, saat itu pula pemerintah colonial membuka perjalanan komersil untuk penumpang. Dan para konglomerat pun cukup antusias mengenai perkembangan ini. Oleh karenanya, NIS mulai merekrut pegawai dari orang-orang pribumi yang potensial untuk ikut andil dalam penyelenggaraan kereta api di Jawa.
No comments:
Post a Comment